Beranda Diskusi Publik Harmonisasi Industri dan Lingkungan

Diskusi Publik Harmonisasi Industri dan Lingkungan

LATAR BELAKANG

Kekayaan alam merupakan anugrah Sang Pencipta untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia secara berkelanjutan. Perkembangan peradaban manusia tidak lepas dari proses mengolah kekayaan alam menjadi sesuatu yang memberikan manfaat untuk menunjang kehidupan manusia lebih baik. Ditemukannya mesin up oleh James Waat merupakan salah satu cikal bakal tumbunya industri yang kemudian merubah bentuk kehidupan manusia. Jika dilihat dari perspektif sejarah manusia, di jaman purbakala tanpa teknologi maka manusia hidup dengan menggantungkan sepenuhnya pada alam dengan tinggal di gua dan hidup penuh ancaman dengan binatang buas. Seiring perkembangan jaman di era modern maka manusia menikmati sepenuhnya kekayaan alam yang sudah diolah untuk menunjang kehidupan mereka.

Pada konteks tersebut, maka kemudian muncullah perbedaan antar manusia dari sisi kesejahteraan, perbedaan antar negara dari sisi kemajuan dan kemakmuran serta pengaruh. Saat ini jika membandingkan antara Eropa dengan Afrika maka persepsi yang muncul adalah Eropa sebagai negara maju dengan peradaban tinggi sedangkan Afrika sebagai negara miskin dengan peradaban rendah.

Kemajuan Eropa tidak lepas dari industrialisasi yang ada di benua biru tersebut. Revoluasi industri di tahun 1800an telah menjadikan Eropa mampu mengolah kekayaan alam yang sebagian juga diambil dari Asia dan Afrika yang kemudian diolah untuk memberikan kesejahteraan bagi penduduk Eropa.

Lalu apakah negara maju adalah negara paling polusi atau dalam kata lain merusak lingkungan, ternyata tidak. Michael Jerrett, profesor kesehatan lingkungan dari University of California, Los Angeles (UCLA) lewat penelitian jurnal Nature seperti dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (26/9/2015). Berikut adalah daftar 10 negara dengan tingkat polusi paling mematikan berdasarkan laporan Bloomberg negara paling polusi:

Negara Negara
1. China 6. Rusia
2. India 7. Amerika Serikat
3. Pakistan 8. Indonesia
4. Bangladesh 9. Ukraina
5. Nigeria 10. Vietnam

Nampak dari tabel di atas, peringkat negara paling polusi di dominasi negara yang justru sedang giat-giatnya membangun industrinya seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Indonesia dan Vietnam.

Adapun negara terbersih menurut Pusat Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan Bumi Internasional (International Earth Science Information Network) Columbia University dan Pusat Kebijakan dan Undang-undang Lingkungan (Environmental Law and Policy) Yale University adalah 1. Swiss, 2. Swedia, 3. Norwegia, 4. Finlandia, 5. Costa Rica, 6. Austria, 7. Selandia Baru. Tentu yang menginspirasi adalah masuknya Costa Rica di jajaran negara maju sebagai negara terbersih.

Costa Rica dapat dikatakan tingkat pemerintahan dan ekonominya masih setara dengan Indonesia. Namun negara tersebut mampu menerapkan kebijakan industri dan lingkungan yang baik. Costa Rica dalam kesimpulan penilaian adalah negara yang sangat memperhatikan lingkungan dan sudah mengambil langkah-langkah untuk menetralkan karbon pada tahun 2021.

Indonesia masuk negara yang “paling polutif diatas” tentu akan dapat dilihat dari apa yang ada saat ini. Berdasarkan informasi dari situs Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH), pada Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) periode 2013 – 2014 diikuti oleh 1908 perusahaan yang hasilnya 17 perusahaan tidak diumumkan peringkatnya, yaitu 8 perusahaan diarahkan ke penegakan hukum, 2 perusahaan tidak beroperasi lagi, 3 perusahaan dalam tahap komisioning, dan 4 perusahaan tutup. Pada periode 2013 – 2014, hasil penilaiannya yaitu:

  • Peringkat Emas berjumlah 9 perusahaan;
  • Peringkat Hijau berjumlah 121 perusahaan;
  • Peringkat Biru berjumlah 1224 perusahaan;
  • Peringkat Merah berjumlah 516 perusahaan;
  • Peringkat Hitam berjumlah 21 perusahaan.

Proper emas sebagai standar tertinggi baru 0,047%. Sedangkan jika dilihat dalam kategori emas dan hijau yang menunjukkan sudah terjadi harmonisasi industri dan lingkungan maka jumlahnya hanya atau 6,8%. Artinya adalah mayoritas atau 93,2% perusahaan besar di Indonesia belum mencapai tingkat yang layak dari aspek harmonisasi industri dan lingkungan.

Akibat dari masih banyaknya perusahaan yang mencemari lingkungan, maka biaya perbaikan ataupun dampaknya sangat besar. Anggaran Pemerintah Pusat melalui Kementerian KLH yang meningkat dari dari Rp 6,2 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 9,8 triliun di tahun 2016, menunjukkan persoalan lingkungan hidup di Indonesia membutuhkan penangangan serius. Apakah cukup dengan biaya sejumlah itu tentu tidak. Laporan terbaru berjudul “Natural Capital at Risk – The Top 100 Externalities of Business” dari TEEB for Business Coalition mengungkap secara detil nilai kerugian lingkungan ini. Laporan menyebutkan, nilai kerugian akibat kegiatan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam dunia mencapai $7,3 triliun per tahun atau setara dengan 13% produksi (output) ekonomi global.

Jika ouput ekonomi (PDB) Indonesia tahum 2014 mencapai Rp 10.542,- triliun, maka kerusakan alam akan mencapai (Rp 10.542 X 0,13) = Rp 1.370 triliun atau 77% dari nilai APBN 2014 yang sebesar Rp 1.764 triliun.

Ada kabar menggembirakan, di beberapa industri telah jauh melangkah kedepan. Bagi mereka lingkungan dan kinerja perusahaan dapat saling mendukung, semisal penggunaan limbah industri dan limbah B3 seperti fly ash, cupper slag, bottom ash, oil sludge, papper slude sebagai bahan semen menggantikan SDA seperti gypsum, silika, pasir besi dan lainnya menunjukkan komitmen dan teknologi akan mewujudkan tidak sekedar industri ramah lingkungan, tetapi juga industri yang tingkatkan kualitas lingkungan.

TUJUAN

Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Komunitas WEGI memiliki tujuan :

  1. Menggali masukan dan mencari cara terbaik agar semakin cepat industri di Indonesia mencapai tingkatan green industry, dengan tidak adanya industri yang mendapatkan proper merah dan proper hitam.
  2. Meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan sekitar industri dengan mendorong 50% industri besar di Indonesia mendapatkan proper hijau dari saat ini yang baru mencapai 6,7% di tahun 2020.
  3. Sebagai wujud komitmen yang besar di DPR dan Pemerintah untuk mewujudkan green investment di Indonesia karena sebagian diantara industri yang tidak ramah lingkungan adalah PMA, dengan mendorong perbaikan regulasi yang seimbang antara tax holiday dan kelestarian lingkungan.
  4. Menjadi forum dialog bersama antara industri dan penggiat lingkungan untuk bersamasama berkolaborasi untuk mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

TEMA

Tema diskusi publik adalah “Langkah dan Strategi Mewujudkan Harmonisasi Industri dengan Lingkungan”

WAKTU PELAKSANAAN

Kegiatan diskusi publik akan dilaksanakan pada :
Hari, tanggal : Kamis, 3 Maret 2016
Waktu : 13.00 wib – 17.00 wib
Tempat : Ruang Operasional, DPR RI

NARASUMBER

Diskusi publik akan menghadirkan 4 (empat) narasumber yang mewakili stakeholders terkait upaya mewujudkan industri ramah lingkungan, yaitu ;

  • Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup
    1. Berbicara mengenai regulasi, pengawasan dan sanksi untuk mendorong industri ramah lingkungan.
    2. Program untuk mendorong industri ramah lingkungan, termasuk peran KLH dalam menyaring investasi asing yang mengolah SDA agar memenuhi kaidah lingkungan yang berkelanjutan.
  • DPR RI – Kaukus Hijau Senayan
    1. Menyampaikan materi terkait dengan rancangan dan strategi DPR dalam bentuk prolegnas untuk mewujudkan industri di Indonesia yang ramah lingkungan.
    2. Bagaimanakah pengawasan DPR terkait kebijakan dan program Pemerintah di bidang lingkungan, serta mekanisme penyerapan aspirasi melalui Dapil pemilihan masing-masing dalam pengawasan industri.
    3. Sharing program-program kaukus hijau senayan terkait industri ramah lingkungan.
  • Industri
    1. Bagaimanakah industri berbasis sumber daya alam (SDA) menempatkan lingkungan dan sosial dalam konteks kinerja korporasi yang tetap harus berdaya saing tinggi.
    2. Sharing pengalaman industri berbasis SDA dalam mewujudkan operasional yang ramah lingkungan, seperti penggunaan limbah sebagai bahan baku, penggunaan limbah sebagai bahan bakar.
    3. Bagaimanakah industri ekstraktif yang mengambil SDA mampu menjadikan lingkungan sekitar termasuk pasca berhentinya industri tersebut agar lingkungan tetap mampu memberikan daya dukung kepada kehidupan masyarakat sekitar.
  • LSM/Penggiat Lingkungan
    1. Apakah yang menjadi perhatian dan tujuan LSM dalam melakukan gerakan lingkungan (advokasi, pengawasan dan lainnya) dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
    2. Bagaimanakah pandangan LSM/penggiat lingkungan terhadap industri di Indonesia, serta masukannya kepada Pemerintah dan DPR untuk mewujudkan industri yang ramah lingkungan melalui kewenangan yang dimilikinya.
    3. Bagaimanakah caranya LSM/penggiat lingkungan mampu mensinkronkan gerakannya dengan industri yan g telah memiliki komitmen terhadap lingkungan.

PESERTA

Kegiatan diskusi publik terdiri atas :

  1. Anggota DPR
  2. Tenaga ahli anggota DPR dan komisi yang terkait dengan industri dan lingkungan.
  3. Perwakilan industri
  4. Perwakilan LSM/Penggiat lingkungan, blogger dan SosMed.
  5. Perguruan tinggi
  6. Jurnalis

JADWAL ACARA

Waktu Kegiatan
13.00 – 14.00 Registrasi
14.00 – 14.05 Pembukaan dan Pengantar oleh Panitia
14.05 – 16.30 Paparan dan diskusi
16.30 – 17.00 Kesimpulan dan Penutupan

PENDAFTARAN PESERTA