Beranda Berita Wegi Gelar Diskusi Publik tentang Lingkungan di DPR RI

Wegi Gelar Diskusi Publik tentang Lingkungan di DPR RI

62
0
BERBAGI

Indonesia termasuk negara paling polusi di dunia, berdasarkan  penelitian Michael Jerrett, profesor kesehatan lingkungan dari University of California, Los Angeles (UCLA) lewat penelitian jurnal Nature seperti dikutip dari Bloomberg, Indonesia peringkat 8 negara paling polusi didunia

Negara Negara
1.     China 6. Rusia
2.     India 7. Amerika Serikat
3.     Pakistan 8. Indonesia
4.     Bangladesh 9. Ukraina
5.     Nigeria 10. Vietnam

Indonesia masuk negara yang “paling polutif diatas” tentu akan dapat dilihat dari apa yang ada saat ini. Berdasarkan informasi dari situs Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH), pada Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) periode 2013 – 2014 diikuti oleh 1908 perusahaan yang hasilnya 17 perusahaan tidak diumumkan peringkatnya, yaitu 8 perusahaan diarahkan ke penegakan hukum, 2 perusahaan tidak beroperasi lagi, 3 perusahaan dalam tahap komisioning, dan 4 perusahaan tutup. Pada periode 2013 – 2014, hasil penilaiannya yaitu:

– Peringkat Emas berjumlah 9 perusahaan;
– Peringkat Hijau berjumlah 121 perusahaan;
– Peringkat Biru berjumlah 1224 perusahaan;
– Peringkat Merah berjumlah 516 perusahaan;
– Peringkat Hitam berjumlah 21 perusahaan.

Proper emas sebagai standar tertinggi baru 0,047%. Sedangkan jika dilihat dalam kategori emas dan hijau yang menunjukkan sudah terjadi harmonisasi industri dan lingkungan maka jumlahnya hanya  atau 6,8%. Artinya adalah mayoritas atau 93,2% perusahaan besar di Indonesia belum mencapai tingkat yang layak dari aspek harmonisasi industri dan lingkungan.

Akibat dari masih banyaknya perusahaan yang mencemari lingkungan, maka biaya perbaikan ataupun dampaknya sangat besar. Anggaran Pemerintah Pusat melalui Kementerian KLH yang meningkat dari dari Rp 6,2 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 9,8 triliun di tahun 2016, menunjukkan persoalan lingkungan hidup di Indonesia membutuhkan penangangan serius. Apakah cukup dengan biaya sejumlah itu tentu tidak. Laporan terbaru berjudul “Natural Capital at Risk – The Top 100 Externalities of Business” dari TEEB for Business Coalition mengungkap secara detil nilai kerugian lingkungan ini. Laporan menyebutkan, nilai kerugian akibat kegiatan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam dunia mencapai $7,3 triliun per tahun atau setara dengan 13% produksi (output) ekonomi global.

Jika ouput ekonomi (PDB) Indonesia tahum 2014 mencapai Rp 10.542,- triliun, maka kerusakan alam akan mencapai (Rp 10.542 X 0,13) = Rp 1.370 triliun atau 77% dari nilai APBN 2014 yang sebesar Rp 1.764 triliun. Bandingkan dengan perolehan pajak yang di tahu  tersebut belum mencapai Rp 1.000 triliun, yang tentunya kontribusi industri ekstraktif mungkin hanya sekitar Rp 100 – Rp 150 triliun saja.

Semakin banyak industri yang menerapkan kaidah Green Industry tentu dampak ke lingkungan bisa diminimalisir dan bahkan dihilangkan.

Untuk info lebih lengkap tentang kegiatan Diskusi Publik bisa di baca di Menu “Diskusi Publik” diatas.

LEAVE A REPLY